Rabu, 27 Januari 2010

SEJARAH SALIB DALAM ALKITAB

Sejarah Salib dalam Alkitab


Dalam bagian ini penulis akan menguraikan sejarah salib dalam Perjanjian Lama dan setelah itu dalam Perjanjian Baru.
Salib dalam Perjanjian Lama

          Jauh sebelum salib dikenakan pada Tuhan Yesus Kristus, Allah sendiri telah menyatakan hukuman gantung itu sebagai kutukan Allah (Bandingkan Bilangan 25:4; Ulangan 21:22; Yosua 10:25,26). Dalam hal hukuman ini, orang yang digantung pada salib tidak boleh dibiarkan tergantung hingga malam hari. Demikian juga yang dilakukan oleh Yosua, oleh penduduk Yabesy-Gilead terhadap mayat Saul dan anak-anaknya yang digantung oleh orang Filistin di tembok kota Bet-Sean, demikian yang dilakukan oleh Yusuf Arimatea terhadap mayat Yesus (Bandingkanlah Ulangan 21:23; Yosua 10:27; 1 Samuel 31:8-12; Matius 27:57-60.
Dari keterangan diatas dapat dipahami bahwa salib sebagai alat hukuman, khususnya bagi bangsa Israel adalah berasal dari Allah sendiri. Dalam pelaksanaan hukuman salib dilakukan untuk mempertegas kutukan dan penghinaan atas orang yang melanggar hukum Tuhan.
Dalam hal itu orang Yahudi menganggap bahwa penyaliban itu adalah tanda kutukan yang paling hina dan peringatan yang paling kuat bagi pelanggar hukum yang paling jahat. Khususnya bagi orang-orang Yahudi hat itu tidak boleh dilakukan, karena dianggap tabu kalau dilakukan terhadap mereka. Marthin Hengel menjelaskan:
The excessive use made of crucifiction by the Romans in the pacification of Judaea meant that from the beginning of direct Roman rule crucifiction was taboo as a form of the Jewish death penalty. This change can also be inferred from Rabbinic interpretation of Deuteronomy 21:23.

Penyaliban dalam Perjanjian Lama membawa akibat kepada penyataan salib Yesus sebagai Mesias yang disalibkan, tidak dapat diterima oleh orang Yahudi.
            Menurut berita Perjanjian Lama, hanya ada satu peristiwa yang menunjukkan bahwa salib itu sebagai sumber kehidupan bagi Israel yakni dalam kasus pemberontakan Israel melawan Allah dan Musa, dalam perjalanan mengelilingi tanah Edom (Bandingkan Bilangan 21:4-9). Di sana Israel bersungut-sungut dan mencela makanan “manna” yang diberikan oleh Tuhan Allah mereka. Kemudian Tuhan berperkara dengan Israel, lalu Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu untuk memagut mereka, sehingga banyak di antara bangsa Israel yang mati. Hukuman itu menimbulkan kesadaran dan penyesalan umat yang masih tertinggal. Dalam keadaan terancam oleh ular berbisa itu mereka mengaku bahwa mereka telah berdosa melawan Tuhan dan memohon kepada Musa supaya ia berdoa kepada Tuhan agar tulah itu dijauhkan dari antara mereka.
          Jawaban dari Tuhan terhadap doa yang dipanjatkan oleh nabi Musa ialah dengan cara membuat ular tembaga yang ditegakkan pada sebuah tiang, agar setiap orang yang terpagut ular, jika memandang kepada ular tembaga yang ditegakkan di atas tiang itu akan tetap hidup.
            Hal ini adalah semata-mata kemurahan Allah kepada bangsa Israel dan secara iman mereka ditantang untuk percaya pada Firman Tuhan bahwa dengan jalan memandang ular tembaga itu mereka akan tetap hidup. J.A. Thompson mengatakan: “Demikianlah Israel di ajar, bahwa hanya di dalam Allah ada kelepasan. Undangan sederhana supaya melihat dan hidup (bandingkan Yesaya 45: 22) adalah ujian iman. Ular berbisa dapat dibuat tidak berbahaya hanya karena belas kasihan Allah.”
            Hal diatas ternyata merupakan tipos bagi Anak Manusia yang akan disalibkan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Tuhan Yesus sendiri bahwa: "Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal"(Yohanes 3:14,15). Di sini Tuhan Yesus memberikan perbandingan sekaligus menerangkan bahwa apa yang dibuat oleh Musa di padang gurun merupakan tipos yang akan digenapkan pada diri-Nya. Donald Guthrie mengatakan,
            Peristiwa dalam PL mengenai Musa dan ular tedung (Bil 21:8,9) dikutip untuk menjelaskan pekerjaan duniawi dari Anak Manusia, peninggian jelas menunjuk kepada salib dan bukan kepada kemuliaan. Maksud yang sebenarnya dari perbandingan ini adalah perlunya iman. Perlu diperhatikan bahwa peninggian Anak Manusia adalah kebutuhan yang wajib. Adalah untuk tujuan ini bahwa Ia telah datang.
            Dalam bagian lain Tuhan Yesus juga mengemukakan tentang hal yang sama bahwa Ia akan ditinggikan pada salib dan kemudian orang akan mengerti tentang Dia, juga apabila Ia ditinggikan dari bumi maka Ia akan menarik semua orang datang kepadaNya (Bandingkan Yohanes 8:28; 12:32). Donald Guthrie mengatakan,
            Dalam Yohanes 12:33, hal ditinggikan itu dijelaskan oleh penulis dengan komentar "ini dikatakanNya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati." Jelas bahwa dalam Pikiran Yohanes hal ditinggikan itu berarti kenaikan Yesus di salib. Hal ini sama jelasnya dengan perbandingan dengan Musa yang meeninggikan ular (Yohanes 3:14, dan pernyataan Yesus kepada orang Yahudi bahwa mereka akan meninggikan Dia. Kedua sebutan ini mengarah kepada kesengsaraan yang akan datang (Yohanes 8:28).
             Dengan demikian tipos salib yang ditegakkan Musa di padang gurun dan mendatangkan keselamatan bagi Israel, adalah merupakan bukti sejarah bahwa Allah telah merencanakan keselamatan bagi umat manusia lewat karya salib Kristus, jauh sebelum hal itu terjadi pada diri Tuhan Yesus Kristus.

Salib dalam Perjanjian Baru
            Salib secara literal berarti penghukuman bagi penjahat-penjahat bangsa Romawi. Hal ini digunakan dalam beberapa peristiwa, misalnya menurut pemerintahan Romawi Yesus Kristus yang disamakan seperti seorang penjahat(bandingkan Matius 27:40, 42; Markus 15:30, 32; Yohanes 19:25, 31; Filipi 2:8), Simon orang Kirene dipaksa memikul salib Yesus (bandingkan Matius 27:32; Markus 15:21; Lukas 23:26); dan tulisan di atas kayu salib yang mengindikasikan alasan untuk menghukum (bandingkan Yohanes 19:19). Mengenai tulisan yang berada di atas kepala Tuhan Yesus, Charles F. Pfieffer dan Everett F. Harrison mengatakan, kejahatan yang dilakukan oleh terhukum ditulis pada sebuah papan yang digantungkan dileher atau dipakukan pada kayu salib di atas kepala-Nya. Yesus yang tidak pernah berdosa mati menggantikan manusia yang penuh dosa. Melalui penyaliban-Nya hukuman atas dosa manusia telah dilaksanakan.
             Salib secara simbolis menunjuk kepada makna penderitaan dan kematian orang percaya yang harus dipikulnya dalam mengikut Tuhannya. Konsep ini nyata di dalam beberapa pengajaran Tuhan Yesus kepada para murid dan orang-orang yang menyertai-Nya (bandingkan Matius 10:38;16:24; Markus 8:34; 10:21; Lukas 9:23, 14:27).

Makna salib Kristus
              Salib Kristus memiliki makna antara lain: pengganti, pengampunan, pengudusan, penebusan, pembenaran dan rekonsiliasi.
1. Pengganti
              Konsep penting pertama yang ditemukan dalam Perjanjian Baru yang berkaitan dengan kematian Kristus dan merupakan aspek paling mendasar dari kematian Kristus adalah bahwa Dia menggantikan umat manusia dan menanggung hukuman akibat dosa manusia. Kristus menderita sebagai pengganti orang berdosa, sehingga mengakibatkan kebaikan bagi kita karena Dialah yang membayar dosa-dosa kita.
Rasul Petrus, yang awalnya memberontak terhadap pemikiran tentang Yesus yang akan disalibkan, sesudah peristiwa tersebut, menuliskan dua pernyataan penting tentang hal tersebut: "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh" (1 Petrus 2:24). Tentang penggantian ini Donald C. Stamps menuliskan sebagai berikut:
             Tujuan dari kematian yang menggantikan ini agar kita dapat dipisahkan sama sekali dari kesalahan, kuasa dan pengaruh dosa. Melalui kematian-Nya Kristus menyelamatkan kesalahan kita dan hukuman bagi dosa kita, membuka jalan hingga kita pantas untuk kembali kepada Allah (Roma 3:24-26) dan menerima kasih karunia untuk hidup benar dihadapan-Nya. Roma 6:2-3; 2 Korintus 5:15;, Galatia 2:20). Petrus menggunakan kata sembuh dalam hubungan dengan keselamatan dengan segala berkat-Nya (Yesaya 53:5; Matius 8:16-17).
             Selanjutnya Rasul Petrus menuliskan, "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah" (1 Petrus 3:18). Beberapa pernyataan dalam Yesaya 53, yang merupakan nubuat yang diterapkan oleh Yesus serta para murid pada kematian Kristus, merupakan referensi yang jelas. Berikut ini kutipannya:
              Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. (Yesaya 53:4-6).
              Mesias akan memikul hukuman agar kita dapat dilepaskan dari kelemahan dan penyakit serta dosa-dosa. kita. Ayat Alkitab yang paling jelas menyatakan sampai sejauh apa Kristus menjadi pengganti adalah 2 Korintus 5:21, "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." Pengorbanan Tuhan Yesus mengubah kehidupan orang berdosa dan pantas untuk mendapatkan kutuk beralih menjadi manusia yang benar di hadapan Allah. Tentang makna salib Kristus sebagai pengganti Everett F Horrison dalam The Wycliffe Bible Commentary mengatakan,
Dia yang tidak berdosa menjadi (diperhitungkan sebagai) berdosa untuk orang berdosa supaya orang berdosa dapat (diperhitungkan sebagai) menjadi tidak berdosa di dalam Dia yang tidak berdosa. Itulah inti dari Injil sebuah ayat yang setara pentingnya dengan Yohanes 3:16. Di dalam Perjanjian Lama Allah memperhitungkan orang percaya sebagai benar diajarkan melalui didikan (Kejadian 15:6, Roma 4:3,9), melalui nubuat (Yesaya 53:11; 61:10; Yeremia 23:6, dan melalui lambang (zakaria 3:1-5).
          Itulah alasan mengapa Dia "merasa sangat susah dan gelisah" di taman Getsemani dan berkata, "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya"(Markus 14:33-34). Inilah alasan Dia berseru, "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki" (Markus 14:36). Ia sedang berbicara mengenai meminum cawan murka Allah atas dosa. Ia tahu bahwa itu berarti ditinggalkan oleh Bapa, seperti seruan-Nya di atas salib (Markus 15:34). John Stott menjelaskan hal itu dalam bukunya, The Cross of Christ, sebagai berikut: "Terhadap hubungan dengan dosa manusia inilah jiwa-Nya yang tidak berdosa merasa tawar hati. Terhadap pengalaman terasing dari Bapa-Nya yang merupakan bagian dari penghukuman atas dosa, Dia sangat gentar." Kristuslah yang memenuhi perjanjian perbuatan itu bagi manusia. Maka sekarang manusia dalam keadaan dibenarkan dan menerima keselamatan kalau mengaku pekerjaan Tuhan Yesus, karena Kristus sebagai penggantinya.

2. Pengampunan
          Hasil langsung dari manfaat kematian Kristus yang dikenakan pada orang berdoa adalah pengampunan dosa. Kematian itu niscaya agar pengampunan bisa diberikan, seperti yang dijelaskan dalam Ibrani 9:22. Hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Peter Wongso mengatakan tentang hal itu sebagai berikut:,
Kenajisan materi dapat dibersihkan dengan air atau dengan bahan kimia, tetapi perbuatan dosa adalah masalah hidup, tekad, pikiran, sikap, emosi, nafsu, batin manusia, bukan berupa kenajisan materi oleh sebab itu harus disucikan dengan darah sebagai tanda hidup yang non materi.
Rasul Yohanes menggambarkannya dengan menggunakan tiga kata penting yang menjelaskan cara Allah mengampuni orang berdosa: "tetapi, jika kita pertama, mengaku dosa kita, maka Ia adalah kedua, setia dan ketiga, adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan" (I Yohanes 1:9). Bagian manusia adalah mengakui dosa. Bagian Allah adalah mengampuni. Ia adalah setia dan adil dalam melakukannya. John Stott menjelaskan artinya, "Dia setia dalam mengampuni karena Dia telah berjanji untuk melakukannya, dan adil karena Yesus mati bagi dosa kita." Pengampunan didasarkan pada pekerjaan Kristus yang mendamaikan dan menebus karena itu merupakan tindakan anugerah dari Tuhan. Iman dan pertobatan bukanlah jasa tetapi cara dengan mana manusia menerima anugerah illahi. Dia menanggung hukuman manusia dan itu memenuhi tuntutan keadilan Allah. Pesan pengampunan adalah salah satu aspek revolusioner dari Injil Kristen.

Pengudusan
              Pengudusan atau sanctification adalah anugerah Allah yang bebas, di mana manusia diperbaharui dalam seluruh kemanusiaan sebagai peta Allah dan memungkinkan untuk makin mati terhadap dosa dan hidup dalam kebenaran. Kekudusan memegang peran yang sangat penting dalam iman Kristen, karena tanpa kekudusan seorang tidak akan melihat kemuliaan Allah. Melalui kekudusan seorang alan menikmati kehidupannya dengan benar. J. D Douglas menuliskan sebagai berikut:
           Kudus, Pengudusan. Makna dasar dari akar kata Ibrani qados antara lain: (i)'menyendirikan, (ii)cemerlang'. Arti pertama mungkin menekankan kekudusan atau pengudusan dalam arti posisi, status, nisbah, dalam mana kata itu diterjemahkan 'terpotong', 'dipisahkan', 'disendirikan untuk penggunaan khusus', 'diserahkan untuk', atau 'disucikan', 'dianggap keramat atau suci lawan dari yg biasa, tercemar atau sekuler'. Arti kedua mungkin menekankan peng¬gunaannya berkaitan dengan keadaan, atau proses, yang dalam PB mengarah ke pemikiran tentang perubahan batin yg ter¬jadi berangsur-angsur, yang menghasilkan kemurnian, kebe¬naran moral, dan pemikiran-pemikiran suci yang menyatakan diri dalam perbuatan-perbuatan lahiriah yang baik dan menurut kehendak Tuhan.
             Istilah Yunani yang dipakai  higiazmos berarti menjadikan kudus, menahbiskan, memisahkan dari dunia dan diajuhkan dari dosa supaya kita dapat memperoleh persekutuan yang erat dengan Allah dan melayani Dia dengan sukacita. Pengudusan sebagai memisahkan diri untuk Allah, memperhitungkan Kristus sebagai kekudusan kita, dibersihkan dari kejahatan moral, serta menjadi serupa dengan gambaran Kristus. Dalam hal ini pengudusan berbeda dengan pembenaran, karena pembenaran merupakan suatu tindakan yang terjadi sekali saja dan bukan suatu proses.
               Salah satu aspek penting dari penyucian yang terjadi melalui Kristus adalah penyucian hati nurani. Ibrani 9:14 berkata, "Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat akan menyucian hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup."
               Aspek subjektif dari pengampunan menjelaskan tentang kebebasan yang diterima melalui anugerah pengampunan. Inti kemanusiaan dengan sisa-sisa gambar Allah yang bekerja melalui hati nurani, mengatakan bahwa dosa membuat manusia najis. Manusia berusaha menindas pikirannya yang najis tersebut, tetapi pikiran ini selalu muncul. Pikiran najis tersebut bisa disembunyikan, tetapi tidak sepenuhnya terlupakan. Kesadaran akan hati nurani yang telah disucikan merupakan suatu pengalaman yang memerdekakan. Saat seorang wanita yang sebelumnya hidup najis memahami arti penyucian dari Allah, dia berseru dengan penuh kebahagiaan, "Di mata Allah, aku seorang perawan." Dia benar, karena Allah, dalam menggambarkan berkat kovenan baru menyatakan, "Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka" (Yeremia 31:34). Pengudusan adalah tuntutan untuk orang percaya di dalam Kristus, sebab Alkitab mengajarkan bahwa, “tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Allah’ (Ibrani 12:14).
              Anak-anak Allah memperoleh pengudusan oleh iman, oleh persekutuan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, oleh Firman-Nya dan oleh pekerjaan pembaharuan dan pengudusan Roh Kudus dalam hati manusia. Pengudusan yang sejati menuntut bahwa orang percaya tetap memelihara hubungan yang intim dengan Kristus, mempunyai persekutuan dengan orang percaya, membiasakan diri untuk berdoa, menaati firman Allah, peka terhadap kehadiran dan pemeliharaan Allah, mengasihi kebenaran dan membenci kefasikan, mematikan dosa, tunduk kepada disiplin Allah, tetap taat dan dipenuhi Roh Kudus.
              Pengudusan dapat dibedakan dalam dua segi yaitu yang bersifat objectif (pasif) yaitu karya Kristus yang sudah sempurna bagi manusia, tanpa campur tangan manusia dan yang kedua bersifat subjectif (aktif) yaitu kesempurnaannya akan dimiliki oleh orang-orang percaya di dalam kemuliaan Surga. Pengudusan dapat meliputi suatu pengalaman tertentu setelah menerima keselamatan.

3. Penebusan

              Pada subbab ini penulis akan menjelaskan makna penebusan dalam konteks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Makna Penebusan dalam Perjanjian Lama
              Dalam Perjanjian Lama ada tiga istilah yang menjelaskan tentang penebusan yakni  kopher - padah,  - gaal.
Istilah "kopher" berarti: tebusan, pemberian pengganti atau pembayaran denda; berupa uang tebusan untuk menutupi kesalahan atau menyelamatkan nyawa orang yang bersalah tersebut. Istilah ini digunakan berkenaan dengan tebusan nyawa karena melakukan pembunuhan dengan tidak sengaja, juga tebusan nyawa pada waktu pendaftaran penduduk, dimana niasing-masing orang memberikan persembahan khusus kepada Tuhan untuk mengadakan pendamaian bagi nyawa mereka (Keluaran 21:30; 30:11-16).
            Istilah "padah" berarti: tebusan nyawa, khususnya schubungan dengan nyawa anak sulung atau yang lahir terlebih dahulu, baik dari manusia maupun binatang. Penebusan ini dilakukan dalam kaitannya dengan kurban paskah bagi Israel (Keluaran 12:12-15; 13:13-16; Bilangan 18:15-17).
            Istilah "Gaal" berarti: tebusan atau harga tebusan, sehubungan dengan hal membeli kembali atau membayar tebusan atas barang atau harta milik yang pernah terjual atau digadaikan. Hal ini dapat dilakukan oleh anggota keluarga yang lebih mampu, agar warisan itu tidak jatuh ke dalam tangan orang asing. Hal yang sama juga dapat dilakukan terhadap anggota keluarga yang jatuh miskin dan telah menyerahkan dirinya menjadi budak orang asing, maka ia dapat ditebus olch kaum keluarganya dengan membayar uang tebusan pada orang asing itu (Imamat 22:25-28, 47-55).
            Ketiga istilah  tersebut pada dasarnya menunjuk pada perihal memberikan pengganti, khususnya sehubungan dengan nyawa atau hidup seseorang. Penebusan dilakukan dengan memberikan kurban pengganti diri dan nyawa seseorang, agar ia dapat tetap hidup. Hal kedua berarti dengan membayar harga tebusan untuk memperolehnya kembali. Lewat membayar harga itulah terjadi penebusan yang membebaskan dan memerdekakan.
Makna Penebusan dalam Perjanjian Baru
             Dalam Perjanjian Baru, untuk menjelaskan karya salib Kristus, pada dasarnya menggunakan konsep penebusan dalam Perjanjian Lama. Ada dua istilah Yunani yang digunakan untuk menjelaskan hal tersebut yakni: " exagorazw - Exagorazo" yang berarti: pembelian, khususnya dengan membayar uang tebusan, dan "lutron - Lutron" yang berarti: tebusan; dan "lutromai - lutromai" berarti: membebaskan, melepaskan, menebus hidup atau penebusan. Sering kata itu dipakai untuk para tawanan perang yang bisa dibebaskan jika sudah dibayar dengan uang tebusan. Di dalam kata lutron (lutron) tersebut sekaligus menunjukkan pengertian harga yang harus dibayar untuk pembebasan itu.
             Dengan demikian, ada dua pengertian mendasar dalam tindakan penebusan yakni: "penggantian" dan "pelunasan". Kedua pengertian itu mendapat perhatian khusus dalam pemberitaan Perjanjian Baru. Rasul Paulus berbicara tentang penebusan melalui Yesus Kristus. Kata yang dipakai adalah apolutrosiv – apolutrosis yang artinya membebaskan, menyelamatkan, memerdekakan. Kata "penebusan" (Yun. apolutrosis) berarti penebusan dengan pem¬bayaran suatu harga. Ungkapan itu menunjukkan cara keselamatan diperoleh, yaitu dengan membayar suatu tebusan.

Ciri-ciri Penebusan
             Donald C. Stamps merangkum Doktrin penebusan sebagai berikut.
             Pertama, keadaan dosa yang darinya kita harus ditebus. Perjanjian Baru menampilkan manusia sebagai terasing dari Allah (Roma 3:10-18), dikuasai oleh kekuatan-kekuatan setan (Kisah Para Rasul 10:38; 26:18), diperbudak oleh dosa (Roma 6:6; 7:14) dan perlu dibebaskan dari kesalahan, hukuman, dan kuasa dosa (Kisah Para Rasul 26:18; Roma 1:18; 6:1-18,23; Efesus 5:8; Kolose 1:13; 1 Petrus 2:9).
             Kedua, harga yang dibayar untuk membebaskan manusia dari perbudakan. Kristus mem¬bayar harga penebusan dengan mencurahkan darah-Nya serta menyerahkan nyawa-Nya (Matius 20:28; Markus 10:45; 1 Korintus 6:20; Efesus 1:7; Titus 2:14; Ibrani 9:12; 1Petrus 1:18-19).
             Ketiga. kedudukan orang yang tertebus. Orang percaya yang ditebus oleh Kristus kini bebas dari kekuasaan Iblis dan dari kesalahan dan kuasa dosa
(Kisah Para Rasul 26:18; Roma 6:7.12,14,18; Kolose 1:13). Namun, kebebasan dari kuasa dosa tidak membebaskan manusia untuk bertindak seenaknya, karena kini ia telah menjadi milik Allah. Kebebasan dari dosa menjadikan manusia hamba-hamba Allah secara sukarela (Kisah Para Rasul 26:18; Roma 6:18,22; 1 Korintus 6:19-20; 7:22-23).
             Keempat, ajaran Perjanjian Baru tentang penebusan dibayangkan oleh penebusan dalam Perjanjian Lama. Peristiwa besar Perjanjian Lama tentang penebusan adalah keluaran dari Mesir. selanjutnya, melalui sistem pengorbanan, darah binatang menjadi harga yang dibayar untuk pendamaian dosa.

Pembenaran
              Istilah pembenaran atau membenarkan dalam bahasa Ibrani digunakan kata ‘qyDI’c (tsadaq) dan bahasa Yunaninya dikaiow (dikaioo) yang artinya membebaskan dari tuntutan, menyatakan benar atau tidak salah. Kata itu menunjukkan hubungan yang benar dengan Allah dan bukan sekadar menerima pernyataan tidak bersalah secara hukum. Allah mengampuni orang berdosa yang bertobat, yang telah dinyatakan bersalah oleh hukum Taurat dan dijatuhi hukuman kematian kekal. Allah memulihkan mereka dalam kemurahan ilahi dan menem¬patkan mereka dalam hubungan (persekutuan) yang benar dengan diriNya dan kehen¬dak-Nya. George Eldon Ladd menuliskan hal itu demikian:
               Pokok gagasan pembenaran ialah pernyataan Allah, hakim yang adil, bahwa orang yang percaya kepada Kristus, sekalipun penuh dengan dosa dinyatakan benar-dipandang sebagai benar, karena di dalam Kristus orang tersebut telah memasuki suatu hubungan yang benar dengan Allah.
Pembenaran tidak menjadikan seorang benar, tetapi hanya menyatakan dia benar. Dalam hal ini seorang yang bersalah dinyatakan benar menurut hukum dan dibebaskan dari segala tuntutan dan tuduhan.
Manusia dibenarkan bukan dengan melakukan hukum Taurat (Markus 10:17-22, Galatia 3:10, Yakobus 2:10, Roma 3:20, Galatia 2:16). Ia dibenarkan oleh kasih karunia Allah (Roma 3:24, Titus 3:7, Efesus 2:4). Paulus menyatakan beberapa hal mengenai pembenaran ini dan bagaimana hal ini dikerjakan: Dibenarkan di hadapan Allah merupakan suatu karunia (Roma 3:24; Efesus 2:8). Tidak seorang pun yang dapat membenarkan dirinya dengan taat secara sempurna kepada hukum Taurat atau dengan melakukan perbuatan baik (Roma 4:2-6), karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Berdasarkan kematian pendamian Kristus yang memadai diyatakan bahwa orang-orang percaya telah menggenapi semua syarat hukum Taurat.
              Manusia dibenarkan oleh darah Kristus (Roma 5:9, Ibrani 9:22). Dibenarkan di hadapan Allah terjadi karena penebusan dalam Kristus Yesus(Roma 3:24). Tidak ada seorang pun yang dibenarkan terkecuali ia telah ditebus oleh Kristus dari dosa dan kuasanya. Dibenarkan di hadapan Allah terjadi melalui "kasih karunia" dan diterima "karena iman pada Yesus Kristus" sebagai Tuhan dan Juruselamat (Roma 3:22-24; bandingkan Roma 4:3-5).
             Manusia dibenarkan karena iman (Roma 5:1, Galatia 2:16). Dibenarkan di hadapan Allah berkaitan dengan pengampunan dosa(Roma 4:7). Orang berdosa dinyatakan bersalah (Rm 3:9-18.23) tetapi diampuni karena kematian Kristus yang mendamaikan serta kebangkitan-Nya.
             Pada saat hubungan manusia dengan Allah dipulihkan melalui iman pada Yesus Kris¬tus, ia disalibkan bersama dengan Kristus dan Kristus datang untuk hidup di dalamnya (Galati 2:16-21). Melalui pengalaman itu, manusia sungguh-sungguh menjadi benar dan mulai hidup bagi Allah. Karya Kristus yang mengubah melalui Roh Kudus (2 Tesalonika 2:13; 1 Petrus 1:2) tidak dapat dipisahkan dari karya penebusan-Nya bagi orang yang telah percaya. Karya Kristus dan karya Roh Kudus saling terkait.
              Manusia dibenarkan karena anugerah (Sola Gratia), iman (Sola Fide), firman Allah (Sola Scriptura) dan hanya Kristus (Sola Christos).
Rekonsiliasi
              Rekonsiliasi ialah perbuatan memulihkan pada keadaan semula. Rekonsiliasi diperlukan karena dosa adalah pemberontakan melawan Allah dan hasilnya adalah permusuhan atau perseteruan antara Allah dan umat manusia. Rekonsiliasi dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa pada dasarnya Tuhan memperdamaikan diri-Nya dengan manusia. Dalam rekonsiliasi terdapat beberapa aspek yang menyangkut: membuat damai, menjadi damai dan persekutuan.
              Pemulihan segala sesuatu seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya merupakan berkata-kata tentang masa mendatang; tetapi keduanya merupakan hasil dari karya penebusan oleh Mesias. Perjanjian Baru memang mengajarkan atau menyatakan bahwa manusia dahulunya adalah musuh Allah (bandingkan Roma 5:10, Kolose 1:21, Yakobus 4:4). Namun di dalam kata  echthros yang berarti musuh, Tuhan Yesus mengajarkan untuk mengasihi musuh (Matius 5:44, Lukas 6:27, 35) sebagai perintah. Juga secara praktis Paulus memberi contoh di dalam Roma 12:20, sebagai refleksi tindakan Allah yang mengasihi manusia meskipun sebagai orang berdosa dan sebagai seteru Allah.
               Peristiwa pendamaian (rekonsili) mempunyai aspek yang terus menerus artinya terus menerus berdamai dengan Allah. Dan sesuai dengan Roma 3:25, 1 Yohanes 1:2, Kristus adalah pendamaian antara manusia dengan Allah dengan fungsi-fungsinya sebagai imam dan darah yang dicurahkan dengan latar belakang Perjanjian Lama (Imamat 16:2,14,16,30 bandingkan Ibrani 9:15).
               Mengenai rekonsiliasi George W. Peters menuliskan sebagai berikut, Bagaimanapun juga manusia masih memiliki sifat manusiawi. Dengan keadaan manusiawi itu, dia memiliki kemampuan serta kesadaran akan perlunya keselamatan, tetapi bukan dengan hikmat untuk merencanakan keselamatan, bukan pula dengan kekuatan dan kemampuan untuk memperoleh atau mencapainya. Di dalam keselamatan, seseorang bergantung kepada Allah, sebagaimana dia dalam ciptaan yang semula juga bergantung kepada Allah dalam dirinya sendiri, ia tidak berdaya serta tidak berpengharapan. Titik balik dan sinar terang terletak pada kata-¬kata "Tetapi Allah!".
Secara eksistensi atau keberadaan manusia tidak di bawah dosa, kendatipun secara insidentil masih berdosa. Pendamaian memfokuskan perhatian pada pengasingan menjadi seteru dan dengan cara illahi memulihkan kembali kepada kasih sayang Allah.
               Rekonsiliasi adalah merupakan syarat mutlak relasi antara Allah dengan manusia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar